Kisah Hidup yang Belum Pernah Kubagikan

Suatu hal yang tidak pernah kubayangkan bahwa aku menjadi seorang tentara wanita. Hal yang tidak pernah terpikirkan dalam mimpi-mimpiku sebelumnya. Aku hanya bermimpi menjadi seorang dokter. Itu pun sempat pupus saat kelas X SMA karena terpikirkan kondisi ayahku yang sudah pensiun. Kala itu, aku memikirkan bagaimana menjalankan kuliah kedokteran dengan biaya yang cukup mahal ditambah pendidikan spesialisnya yang masih panjang. Sudah tahu begitu, aku sendiri tidak mengukur diri haha.. karena aku sendiri sangat ingin masuk FK Universitas Gadjah Mada. Aku bertekad kalau mau masuk FK, aku harus masuk PTN favorit. Aku tidak pernah ingin masuk universitas swasta karena aku tahu biaya yang dibutuhkan berkali-kali lipat dari biaya kuliah di PTN. Selain itu, aku merasa banyak rekan-rekanku yang secara akademis tidak terlalu menonjol bisa dengan mudah masuk FK swasta. Aku merasa jiwa-jiwa ambisiusku kurang tertantang. Saat itu ya.. kalau sekarang sih, hampir tidak ada efek mau negeri atau swasta. Ga ada pasien yang peduli juga hiks.. jadinya ribet sendiri malah kelamaan kuliah :')

Dan lagipula, tidak pernah sekalipun aku mendapatkan predikat juara di sekolah. Bagaimana mungkin aku bisa masuk kedokteran di PTN favorit?

Aku sempat berpikir untuk menyudahi mimpiku menjadi seorang dokter. Beberapa kali aku mencoba seleksi masuk PTN, aku selalu gagal. Sampai akhirnya, setelah menjalani 10 kali seleksi masuk PTN, mulai dari SNMPTN sampai berbagai ujian mandiri, aku berhasil masuk kedokteran di tahun terakhir kesempatanku SBMPTN. 

***

Perjalananku ibarat kora-kora Dufan, diombang ambing terus yang rasanya tuh nano-nano. Banyak banget tantangannya hingga membuat aku lebih kuat lagi ketika menghadapi kegagalan dan kesulitan. Bahkan ya, saat sudah memasuki dunia Kedokteran, lebih berat lagi tantangannya. 

Selama kuliah, aku mengisi kesibukan dengan aktivitas kemahasiswaan di kampus. Pada tahun ketiga, aku pergi pertukaran pelajar ke Maroko. Ya, tempat terjauh yang pernah kutempuh selama hidup adalah Afrika Utara hahaha.. Gokil kan?! Aku teringat betapa ketar-ketirnya orang tuaku saat aku harus pulang sendirian dari Maroko ke Indonesia melalui perjalanan lebih dari 24 jam. Ayahku sangat khawatir dengan maraknya berita imigran yang tidak kembali ke negaranya karena kasus perdagangan manusia. Tapi, Alhamdulillah, aku bisa melaluinya juga. Kalau cerita pertukaran ini, mungkin aku akan bahas kapan-kapan karena akan panjang hoho

***

Tahun demi tahun di Kedokteran akhirnya berlalu. Tidak terasa 6 tahun yang dulu aku bilang lama itu sudah terlewati dan sudah saatnya aku menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Sebagai perempuan, pasti ingin rasanya segera menikah setelah lulus, lalu memiliki anak sambil tetap bekerja, dan beberapa tahun kemudian melanjutkan sekolah spesialis. Hal ini sudah kupikirkan sejak lama. Tapi, saking fokusnya aku dengan kuliah dan kegiatan kemahasiswaan, aku lupa dengan memikirkan diriku sendiri dan masa depanku. 

Singkat cerita, beberapa bulan sebelum aku menghadapi ujian kompetensi, ada beberapa orang yang datang mendekati diriku. Anehnya, mereka ini adalah orang-orang yang tipikal. Mereka serupa semuanya, ya se-mu-a-nya. Semuanya bukan dokter, tetapi semua ingin memiliki pasangan dokter. Mereka semua menggunakan kacamata dan bisa dibilang sangat akademis. Ada yang pernah menjadi rekan kuliah, adik kelas, kakak tingkat, kakak rekanku, pria mapan yang bekerja di BUMN, dan bahkan orang yang tidak pernah kutemui sebelumnya. 

Saat itu, aku memang memiliki keinginan menikah di usia 25 tahun, yakni usiaku saat lulus menjadi dokter. Namun, saat sudah menghadapinya ternyata aku merasa mentalku belum siap dan merasa aku belum benar-benar mengenali diriku sendiri dan apa yang aku butuhkan. Mereka orang asing yang datang kepadaku dengan niat baik dan memang sudah ingin menikah, sedangkan aku masih belum selesai dengan diriku sendiri. Aku juga belum pernah menjalin hubungan serius dengan siapapun sebelumnya. Aku takut terjebak dalam pilihan yang salah hanya karena target usia. Aku ingin membahagiakan diriku sebelum aku bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perkenalan dengan siapa pun dan fokus untuk meniti karir. 

***

Tak berselang lama setelah sumpah dokter, ada beberapa kali pertemuan antara pihak kampus dan orang tua yang membahas terkait program ikatan dinas bagi angkatanku. Saat itu, orang tuaku memberi pilihan agar mereka melunasi biaya kuliahku saja. Tapi aku tetap bersikukuh untuk menjalani ikatan dinas di RS yang sudah bekerja sama dengan pihak kampus. Aku yakin pasti ada jalan agar aku bisa melunasi biaya kuliah tanpa dibayarkan oleh orang tuaku. 

Dilalah.. ada formulir online yang dibuat oleh pihak kampusku bagi mahasiswa yang berminat masuk dokter militer. Kupikir itu hanya akan menjadi data dasar saja sebagai statistik jalur karir tersebut, tapi ternyata hasil rekap form tersebut dikirimkan dan dipertimbangkan oleh pimpinan. Alhasil, aku memutuskan untuk daftar seleksi di bulan Oktober dan menunda program internsip Dokter yang seharusnya aku jalani di bulan November 2022. 

Namun..

Hal yang janggal terjadi sebelum pendaftaran. 

Berulang kali aku mendaftar via website, tapi tidak kunjung bisa terbuka. Selalu error, error, dan error. Aku penasaran dan iseng mengecek status kelulusan di Ristekdikti. Ternyata status kelulusanku masih belum berubah di Ristekdikti sehingga aku masih dianggap mahasiswa yang sedang menjalani program profesi. Awalnya, aku merasa kesal karena pihak kampus tidak mengurus dengan cepat perkara tersebut. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin memang Allah tidak mau aku daftar di bulan Oktober karena aku belum siap. Akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit tentara dekat rumah. Saat itu, dokter menyarankan aku untuk melakukan Lasik mata dan latihan fisik terlebih dahulu sebelum mendaftarkan diri. Beliau bilang bahwa ketika sudah masuk pendidikan, fisik dan mental akan banyak terkuras. Akan sangat melelahkan apabila tubuh tidak dilatih sebelumnya. 

Berbekal jawaban tersebut, aku berlatih beberapa bulan dan memutuskan untuk tidak melaksanakan Internsip Dokter selama 1 periode. Aku mencari pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, seperti mengadakan seminar online, jadi content creator, dan desain grafis. Aku menjalani pekerjaan tersebut sembari rutin latihan fisik untuk persiapan seleksi. Alhamdulillah, berkat pekerjaan tersebut, aku bisa memiliki tabungan yang cukup banyak sehingga orang tuaku tidak lagi mentransfer uang untuk biaya bulanan. 

***

Hari demi hari berlalu. 

Pembukaan pendaftaran tidak kunjung muncul di website. Padahal biasanya pendaftaran sudah dibuka di Bulan Februari, tapi sampai menjelang akhir Februari masih belum ada pengumuman pendaftaran. Aku sempat pesimis dan berpikir sepertinya pendaftaran perwira karir khusus nakes sudah tidak dibuka lagi. Internsipku pun harus mundur lagi 1 periode. Saat itu, aku sudah membayangkan diriku yang tertinggal dibandingkan rekan-rekan yang lain. Aku pernah tertinggal dan sekarang tertinggal lagi. Itu yang kurasakan saat itu. 

Tapi..

Tiba-tiba saja, ada pembukaan pendaftaran di tanggal 9 Maret 2023. Hari itu juga aku langsung mendaftarkan diri dan semangat mengumpulkan berkas-berkasnya. 

Dari tanggal 9 Maret sampai 9 April, banyak sekali berkas yang kupersiapkan. Bukan sekali dua kali aku bolak-balik ke sekolahku dulu, tapi berkali-kali sudah seperti setrikaan :)) Bolak-balik legalisir, fotokopi, pas foto, print dll. Belum ke Kantor Kelurahan, Dukcapil, Polres, dll. Aku sempat menangis menjalani semua proses itu karena melelahkan sekali rasanya. Apalagi berkas administratif kadang diurus belakangan atau dibatasi jumlah per harinya oleh petugas admin. Tapi, melihat rekan-rekan yang lain masih ada yang lebih repot, aku merasa tidak boleh mengeluh. Banyak yang sekolahnya pindah-pindah, ada juga yang di luar pulau jawa, bahkan ada yang kehilangan berkas ijazah/rapor. Alhamdulillah, aku tidak harus melalui kesulitan itu. Harus tetap semangat!

Setelah penutupan pendaftaran, seleksi demi seleksi di tahap daerah dapat kulalui dengan lancar. Alhamdulillah tidak berselang lama setelah idul fitri, aku mendapat kabar bahwa aku lolos ke tahap seleksi pusat. 

***

Hari keberangkatan ke Jakarta adalah hari paling haru untukku. Karena hari itu, aku diantar oleh tetanggaku. Orang tuaku masih menjalani umroh. Ada 2 orang peserta wanita yang lolos ke tahap pusat, namun dia sudah di Jakarta sedangkan aku berangkat sendiri dari Bandung bersama rekan pria yang lain menggunakan Bus. Rasanya sangat aneh, tidak pernah terpikir akan bekerja di lingkungan yang mayoritas pria dan dunia militer. Meskipun aku tinggal di lingkup pusat pendidikan militer, tapi biasanya aku hanya menjadi penonton, sekarang aku berada di dalamnya. Terbayang? Aku juga masih heran.

Disana aku bertemu nakes dari berbagai penjuru negeri. Dulu, sepertinya tidak masuk di otakku, "Aku ini selalu di rumah. Jarang main, jarang bergaul. Ga mungkin lah bisa punya teman dari berbagai daerah.."

Jeng jeng.. 

Ga pernah keluar kemana-mana, semua datang berkumpul di Jakarta hahaha.. 

Dari Aceh sampai Papua, ada semua. Dari kampus UI, UGM, UNAIR, UNS, UNDIP, sampai kampus yang jarang kudengar namanya, yang aku cuma tahu itu ada kalau di list SBMPTN. Ada semuanya disitu. MasyaAllah memang rencana Allah itu ya..

***

Di sanalah aku bertemu dengan seorang yang sangat usil. Aku tidak terlalu terbuka dengan rekan-rekan disana karena masih dalam situasi seleksi. Tapi ada 1 orang yang selalu ada setiap aku mau beli bakso tahu di kantin. Sampai tiba-tiba, dia mengajakku mengobrol. Dia dipanggil Bram. Usut punya usut, ternyata dia adalah salah satu mahasiswa beasiswa dari jurusan kedokteran yang mendapat matra darat. Dari cara berbicara dan gesturnya, dia tampak seperti mahasiswa yang aktif dan pandai bergaul. Saat itu, aku tidak tahu status setiap orang. Aku rasa banyak yang sudah memiliki pasangan dan bahkan diantar seleksi oleh pasangannya. Aku juga berpikir begitu terhadap dirinya. Jadi, aku sama sekali tidak berharap bertemu pasangan disana. Aku hanya ingin memperoleh teman sebanyak-banyaknya. Bahkan aku tidak ingin mendapat pasangan dokter apalagi militer. Aku pernah terucap hal tersebut karena aku takut akan ditinggal ke Papua hahaha..

Sampai suatu hari..

Dia datang ke kantin lagi dan tidak sengaja berpapasan denganku. Dia bilang, dia ingin meminjam uang untuk membeli bakso tahu. Sungguh sangat tidak manly (ekspresi menggerutu wkwk). Bukannya naksir, malah aku ilfil wkwk Saat itu aku cuma berpikir, sudahlah dikasih saja uangnya, nanti habis itu kita tidak akan bertemu lagi. Eh, ternyata setelah diberikan uangnya, dia gunakan untuk mentraktir teman-temannya. Makin-makin saya kesal -___-

***

Menjelang pengumuman, semua orang panik. Beberapa peserta yang tidak lolos dipanggil lebih dulu dan diarahkan belok ke gerbang keluar. Sedangkan, aku bersama rekan yang lain dipanggil pada gelombang kedua. Kami dipisahkan di sebuah gedung. Awalnya, aku berpikir aku tidak akan lolos mengingat kandidat lain fisiknya lebih baik. Tapi, anehnya, aku langsung teringat Bram. Aku langsung mencari kepala botaknya dan saat aku melihatnya, aku tahu bahwa aku lolos ke matra darat. Akhirnya, kami dikumpulkan kembali di lapangan awal kami dibariskan. Semua matra berkumpul dan disitu kami dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang terkasih untuk terakhir kalinya sebelum melanjutkan perjalanan ke Magelang. 

Sebelum aku dipanggil mengarah ke Bus, Bram menghampiri dan mengembalikan uang yang dia pinjam. Itu adalah terakhir kalinya kita berbincang. Ya, selama di Magelang, kita terpisah kelas dan tidak pernah berdekatan satu sama lain. 

***

((Mohon maaf, disini aku skip cerita pendidikan karena itu sangat internal dan rahasia.))

Pada akhirnya, semua tahapan pendidikan itu bisa terlampaui dengan baik hingga kami semua dilantik menjadi perwira. Aku sendiri sempat mengalami beberapa cedera hingga harus mengurangi beban tas, istirahat dari kegiatan fisik, dan masuk ke RS beberapa kali. Pernah terbesit dalam pikiranku, 

"Kenapa Allah memberi jalan yang malah membuatku cedera? Padahal katanya, Allah tidak akan menguji makhluknya melebihi yang disanggupinya."

Tapi, mungkin dari situ juga aku baru bisa memaknai nikmat Allah yang selama ini kurang aku jaga, yaitu kesehatan. Dari berbagai kesalahan yang aku buat, aku juga diajarkan bertanggungjawab dan diajarkan bahwa tidak semua manusia menyenangi kita. Kita tidak pernah bisa menyenangkan semua orang. Kadang kita harus memikirkan diri sendiri dulu, "aman diri" dulu sebelum memikirkan orang lain. 

***

Tanpa disadari, tujuh bulan di Magelang telah merubah diriku menjadi lebih dewasa. Aku merasa lebih siap menghadapi rintangan apapun dalam hidup. Di titik itulah, aku merasa lebih siap daripada sebelumnya dan aku merasa bisa memulai hidup baru bersama orang lain. Pertama kalinya aku merasa sudah selesai dengan diriku. Perasaan itu tidak bisa kuungkapkan, tapi aku merasa sudah selesai. 

Namun, di saat aku sudah siap, orang-orang yang dulunya mendekat sudah tidak pernah kontak lagi denganku. Bahkan mereka pun sudah memulai hidup baru dengan orang lain. Beberapa orang yang baru mendekat justru hanya mempermainkan perasaan saja. Sampai akhirnya, aku berhenti mencari dan hanya ingin menikmati waktu. 

Di saat itu, aku sering sekali nongkrong makan seblak dengan salah satu rekanku. Kalau makananku tidak habis, pasti aku berikan padanya.

Sampai suatu ketika, Bram datang lagi setiap kami berkumpul. Dia juga sering ikut menghabiskan makanan bersama. Kami pernah belajar bersama di kantin, pergi keliling Jakarta bersama, mencicipi kuliner, dan membahas buku karena kami sama-sama suka membaca. Kami semakin dekat hingga akhirnya aku baru tau bahwa ia baru selesai dengan hubungannya yang sudah dijalani bertahun-tahun. Ada rasa sedih yang aku simpan, dimana aku tahu hatinya belum pulih, namun aku sudah merasa nyaman dengannya. 

Singkat cerita, kami akhirnya memutuskan bersama dan menjalani hari-hari libur bersama keliling Jakarta. Aku tidak tahu apakah perasaan yang kurasakan sama sepertinya atau ia masih terbayang dengan masalalunya. Tapi, aku merasa bahagia bersamanya. 

Bram seperti seseorang yang tidak pernah aku minta sebelumnya. Ia seorang dokter, ia tentara. Dua hal yang tidak pernah aku inginkan ada dalam pasanganku. Tapi, saat aku melihat sosoknya, aku tidak lagi melihat identitas dokter militernya. Aku melihatnya sebagai dirinya dan apa yang ia jalani adalah bagian dari dirinya yang aku harus dukung. Dia sosok loyal yang tidak pernah sekalipun mengeluh dengan apa yang diperintahkan. Dia mengajarkan ikhlas dengan jalan yang sudah Allah tetapkan. Dan di saat aku bertemu dengannya, aku tidak lagi mencari yg lain. Aku tahu dia orangnya.

Namun sayangnya, 

Kami terpisah oleh jarak penempatan, terpisah oleh zona waktu, terpisah oleh sulitnya sinyal, dan sampai akhirnya dia dipanggil menjalankan tugas ke Papua kurang lebih selama 9 bulan. 

Kadang kami tidak mengerti jalan Allah. Dia maupun aku tidak pernah tahu apa maksud dibalik terpisahnya kami selama waktu tersebut. Aku hanya berharap dia pulang dalam keadaan sehat dan bahagia telah tuntas melaksanakan tugas. Dan aku bangga dengan dirinya :')

Uniknya, kami pernah berencana bertemu sebelum dia berangkat ke Hawaii, namun rencana itu gagal karena aku dipanggil bertugas ke Lembang. Tapi di kemudian hari, di saat aku tidak berencana, dia sedang di Batujajar untuk latihan pratugas sebelum ke Papua dan kami akhirnya bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian bulan sejak pengumuman penempatan di Jakarta. Di kesempatan lainnya, kami dipertemukan kembali di Rumah Sakit dekat rumahku. 

***

Beberapa hari sebelum keberangkatan, dia bermalam di Cilodong bersama seluruh prajurit yang akan melaksanakan satgas. Kedua orang tuaku menemaniku menghampirinya kesana. 

Aku ingat, hari itu adalah hari yang sangat berat bagi kami berdua. Karena rasanya kami tidak memiliki jawaban apapun tentang masa depan kita. Bahkan saat itu, dia kehilangan topi pembagian sebelum gelar peralatan, aku tahu dia sangat panik. Rasanya kami tidak siap untuk berpisah. 

Tapi,

Entah kenapa, entah percaya atau tidak.. Kadang aku hanya memiliki firasat. Hal itulah yang membuatku masih menunggunya. 

Beberapa menit sebelum aku sampai disana, dia memintaku untuk menemaninya ke optik karena dia mau pesan kacamata cadangan. Entah kenapa kebetulan sekali, sebelum berangkat satgas, kacamatanya tertinggal di mobil dan kubawa ke optik. Aku bilang kacamatanya tertinggal dan akan kubawa ke Cilodong. Saat itu aku tiba-tiba terpikir membuat kacamata cadangan untuknya. Kebetulan, dia ulang tahun di tanggal 23 Februari dan aku berniat memberikan kacamata itu sebelum dia berangkat ke Papua.

Kayak kok bisa pas ya?

***

Ya, perjalanan hidup ini masih to be continued. 

Mungkin kisahku mirip seperti Sore yang bertemu Jonathan. Tapi, aku percaya, waktu akan memulihkannya. Kita tidak pernah bisa memaksakan orang lain untuk siap. Sama seperti diriku yang dulu belum ingin memulai hidup baru bersama orang lain, di saat orang lain sudah siap memulainya. Aku percaya ada waktu yang tepat di saat keduanya siap dan semuanya tepat. 

Kami suka bercanda, kalau di film namanya Sore, kalau dia Magrib suami dari masa depan hahaha

Hope you enjoy my story. Thanks for reading!



Komentar

Postingan Populer