Menanti
Tidak terasa sudah setahun berlalu sejak aku bertemu Bram terakhir kali di Cilodong. Waktu itu dia sedang persiapan berangkat Satgas ke Papua. Ternyata waktu satu tahun itu terlalui juga. Bukan waktu yang sebentar, tetapi ada banyak hal yang berubah dalam diriku sendiri.
Selama setahun dia bertugas, aku mengalami banyak fase dalam hidup. Fase pertama saat aku harus menerima kenyataan bahwa kami harus berjauhan. Entah itu pertanda apa, tetapi aku berprasangka baik bahwa Allah menjauhkan dari hal-hal yang tidak baik dan Allah ingin aku memiliki waktu untuk menyelesaikan tanggung jawabku dulu, yaitu internsip dokter.
Fase kedua adalah saat menjalani internsip. Meskipun kami berjauhan, dia selalu ingat dengan mengirimkan kado, makanan, dan barang yang dibutuhkan untuk mendukung hari-hariku. Kadang aku tidak menyangka karena tidak ada telepon masuk saat aku ulang tahun. Aku pikir dia sibuk dan sudah lupa. Eh, tiba-tiba dia minta aku keluar untuk ambil makanan dari Gofood. Aku bahagia sekali karena ternyata jarak tidak memutus kehadirannya.
Fase ketiga, disaat aku selesai internsip. Ada banyak dinamika yang kulalui menjelang selesainya internsip. Salah satunya, orang tuaku yang menginginkan kejelasan rencana hidupku ke depannya. Di saat yang bersamaan, ada permasalahan lain yang tidak bisa kuceritakan dan itu terjadi dalam keluargaku. Beberapa hari kemudian, ayahku mengalami sakit jantung. Semua hal itu terjadi secara bersamaan dan membuatku sempat overthinking sampai lelah sendiri. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa diriku tidak memiliki kontrol atas semua yang terjadi.
Fase keempat, aku menerima semua yang kujalani. Pada fase ini, aku menyadari bahwa ada hal-hal yang bisa aku usahakan dan tidak. Ada hal-hal yang berada dalam kendali diriku dan ada yang tidak dapat kukontrol, hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku. Ajaibnya, fase ini membuatku lebih menerima semua keadaan dan berdamai dengan kondisi yang sedang dialami saat itu. Aku menerima apa yang Allah rencanakan untukku dan aku menjalaninya saja dengan baik. Ternyata, Allah memang tahu yang terbaik. Aku merasa lebih dewasa dan bisa menjalani semua dengan ringan. Aku percaya dunia dan seisinya sedang bekerja, Allah tidak pernah tidur dan diam. Allah selalu ada dan mendengarkanku.
Fase kelima, aku mendapat kabar bahagia. Suatu hari seniorku berkata dia ingin mengajukan untuk sekolah spesialis dan minta aku menggantikan tugasnya di klinik sementara pengurusan tersebut. Sekitar awal Januari, beberapa pasukan dari Papua sudah ada pemberitaan kepulangan satgas, tapi Bram belum juga mendapat kabar untuk kepulangannya. Saat kami berbincang di telepon, aku sudah tidak memikirkan lagi kepulangannya, menanyakan kapan, dan apa rencana berikutnya. Aku hanya berpikir satu hal, dia segera pulang dalam keadaan sehat dan segera ada penggantinya.
Pada akhir bulan Januari sampai dengan Februari, aku dipanggil bertugas ke Cipatat. Aku bersama tim kesehatan menginap disana sampai pelatihan selesai. Selama bertugas, aku mendapat cukup banyak pasien dan lumayan kelelahan menanganinya karena hanya ada satu perawat yang bisa aku andalkan untuk tindakan medis. Aku selalu minta saran Bram dan alhamdulillah semua bisa terlalui dengan baik. Kebetulan, aku ulang tahun saat masih disana. Bram mengirimkan kado dan donat untuk dimakan bersama-sama penyelenggara yang lain. Hal-hal sederhana itu membuatku bahagia dan merasakan kehadirannya. Terima kasih Mas Bram.. ^^
Di sela-sela bertugas, aku mendapat kabar bahwa seniorku tidak lolos untuk melanjutkan spesialis, malah beliau dipanggil bertugas ke Papua. Surat tugasnya dikirimkan ke grup dan aku ikut membacanya. Ternyata, seniorku menjalani satgas yang sama dengan Bram, yang artinya beliau akan menggantikan Bram bertugas disana. Sebuah kebetulan yang aku tidak pernah sangka.
Setelah 12 hari bertugas di Cipatat, aku kembali ke Bandung namun sudah tidak bertemu dengan seniorku. Beliau sudah menjalankan latihan pratugas di Batujajar. Sementara itu, aku masih menjalankan tugas di klinik. Hari demi hari berlalu hingga memasuki bulan puasa. Tiba-tiba saja aku di telepon dan ditunjukkan rekan-rekan Bram yang sebelumnya gondrong.. eh ini sudah memangkas habis rambutnya. Pertanda bahwa mereka akan segera kembali. Alhamdulillah... setelah aku tutup telepon, aku sempat menangis. Aku terharu karena ternyata kami bisa melewati setahun masa tugas dalam keadaan kami saling berjauhan. Dan akhirnya waktu kepulangan itu sebentar lagi tiba.. :')
To be continued..


Komentar
Posting Komentar